Selasa, 25 Desember 2012

Little Things Part 1

Jakarta, 26 Desember 2012
Oleh : S.M


Namaku Clara, inilah kisahku 

Ketika itu aku masih duduk di kelas 4 SD. Sejak kecil aku memang di kenal sangat cengeng dan lemah. Tak jarang teman-teman di kelasku menjahiliku dan aku harus pulang dengan sebuah tangisan  karena kejahilan mereka. Aku anak yang pintar, dan guru-guru di kelasku sangat menyayangi aku, mungkin itulah sebabnya teman-temanku iri dan menganggap guruku pilih kasih. Dari situlah aku mulai di jahuhi teman-temanku sampai pada suatu saat sekolah kami harus di renovasi, maklumlah pada saat itu sekolah kami hampir ambruk , lantainya sudah berlobang sana sini, belum kalau turun hujan pastilah ruangan kelas kami kebanjiran . Pada saat itu aku masing sangat kecil, aku masih kelas 4SD masih belum terlalu memahami apa yang terjadi. Kamipun karus dipindahkan sementara dan bergabung dengan sekolah tetangga kami yang letaknya tidak terlalu jauh dari sekolah kami yang hamper ambruk itu. 


Sekolah baru, ruangan kelas baru dan teman-teman baru , ada satu harapan di benakku, di kelasku sendiri aku taidak mempunyai teman aku berharap teman-temanku yang baru bisa menerimaku. Meskipun rasa takut itu ada apalagi kami hanya menumpang di kelas mereka pastilah mereka akan menganggap kami hanya kelas 4 SD yang tidak punya sekolah dan harus menumpang pada mereka. Hari pertama di kelas baru dengan suasana baru, memang sedikit sangat padat, soalnya meskipun ruangan kelas besar tapi jumlah murid mereka 40 orang dan di tambah kami 30 orang jadi saat itu satu ruangan kelas di tempati olah 70 anak.

Benar saja apa yang aku takutkan, mereka sering mengejek kami. Kecuali teman-temanku yang memang dari dulu berani mereka langsung di terima oleh mereka. dan aku hanya berharap ada seseorang yang akan menyelamatkan aku dari masa-masa kecilku yang mengerikan.


“ Namamu Clara kan? “ Tanya segerombolan anak laki-laki, aku tahu mereka. Mereka adalah Ferdy dan kawan-kawannya. Anak nakal pembuat onar di kelas kami. Meskipun sering di hukum tetap saja mereka tidak kapok.

“ iya..” jawabku ketakutan

“ mereka bilang kau selalu mendapat rengking satu ya..?

“ iya…”

“ dan mereka bilang guru-guru juga sangat menyukaimu?.

Aku terdiam menunduk, hamper saja aku menagis tapi aku tahan dan aku harus kuat agar mereka tak meremehkan aku lagi

“Eh jawab…” Bentak Ferdy menarik tanganku

“ lepaskan…” teriakku

“ lepaskan dia Ferdy…” kata salah satu orang temannya yang ketika itu ikut bersama mereka

“ kenapa ?” Tanyanya geram, masih menggenggam erat tanganku. “ kau mau membelanya…?” tanyanya sekali lagi

“ bukan begitu, dia wanita. Apa kamu mau dianggap banci, yang Cuma berani dengan perempuan lemah..” katanya dengan gaya tenang dan menatap Fredy tajam

Aku tahu siapa dia, cowok terpintar di kelas mereka, tentunya sebelum aku datang Namanya Danny, aku melihat dia membisikan sesuatu pada Ferdy dan entah apa yang dikatakannya Ferdypun langsung melepaskan tangan ku, lega rasanya.

“ kali ini kamu bisa lolos, lain kali awas kamu…” langsung pergi bersama teman-temannya. Rasa takutku pun belum hilang saat itu ingin sekali aku menangis tapi sekuat tenaga aku menahannya.

“ Tidak usah takut padanya, kalau kau takut dia akan sering menjahili kamu..” ucap seseorang di sampingku

“ iya..” aku terkaget ternyata Danny masih berada di sampingku, dan aku tidak menyadarinya sama sekali.

“ terimakasih..” ucapku terpatah-patah

“ Namaku Danny…”

“ Clara…”

“ aku sudah banyak mendengar tentangmu dari teman-teman sekelas. Sepertinya mereka tidak menyukaimu?” tanyanya tetap dengan gaya tenang, aku akui di balik sikapnya yang tenang itu aku melihat sesuatu yang hangat dan sejak saat itu aku tahu dia akan selalu menjagaku

“ iya..”

“ kenapa ?”

Aku hanya menggelengkan kepala

“ sudahlah, jangan pikirkan mereka. mulai sekarang aku akan jadi temanmu…”

“ benarkah..”

“ tentusaja…”

“ mulai sekarang kau tidak usah takut lagi dengan mereka, aku akan selalu menjagamu…”

“ terimakasih “

Sejak saat itulah kami bersahabat, aku mulai di terima teman-temanku lantaran aku bersahabat baik dengan Danny siswa terpintar di kelas kami. Kehidupanku yang suram semasa SD pun mulai berangsur membaik, aku sudah punya banyak teman dan merekapun jarang menjahiliku. Apalagi jika aku menangis, Dany akan langsung membelaku dan melindungi aku. Pertemanan kami berlanjut hingga kelas 6 SD, dan saat itu pembangunan sekolah kami sudah selesai. Semester terakhir kami di pindahkan kembali ke sekolah kami yang lama, dan otomatis aku dan Danny akan berpisah. Tapi Danny selalu mengajariku keberaniaan, dan rasa takutku pun hilang, karena dia kehidupanku berubah, tak ada lagi tangisan dan kesepian sekarang aku mempunyai banyak teman-teman yang membelaku dari anak nakal. Saat aku di pindahkan kembali kesekolahku yang lama, aku sangat kehilangan Danny dan aku kehilangan sahabat terbaikku.


Hingga lulus SMP aku tidak pernah bertemu dengannya, meskipun sekolah kami berdekatan tapi rumah kami berjauhan. Danny adalah anak seorang Lurah di desaku dan setiap harinya selalu ada yang mengantar dan menjemputnya dengan mobil. Maklumlah selain anak seorang Lurah keluarga Danny adalah keluarga terpandang di desaku, berbeda sekali dengan kehidupanku. Aku hanya anak dari seorang petani dan ayahku hanya seorang buruh yang bekerja di Jakarta. Tapi meskipun begitu kedua orang tuaku selalu mengajariku mensyukururi apa yang sudah kami punya.


Ayahku adalah ayah terhebat yang aku punya, sejak kecil, ayahku bekerja di Jakarta. Demi kami, ayahku rela jauh dari keluarga untuk mencari nafkah demi kehidupan kami yang lebih baik. Meskipun jauh dari Ayah, aku tak pernah kekurangan kasih sayang darinya. Setiap dua bulan sekali ayahku selalu menyempatkan pulang kekampung demi kami, itulah ayahku dan aku sangat menyayanginya.


Sejak perpisahanku dengan Danny. berita yang aku dengar dia lulus SD dengan nilai terbaik dan dia pindah ke Jakarta bersama pamannya dan meneruskan bersekolah disana. Dan kini sepuluh tahun sudah berlalu dan aku tak pernah lagi melihatnya apalagi bertemu dengannya. Aku hanya sekilas mendengar berita dari teman-temannya yang pulang dari dari Jakarta, dan dari situlah aku tahu dia sudah melanjutkan kuliahnya di sebuah universitas kedokteran terkenal di Jakarta, sama seperti cita-citanya di masa kecil. 

Saat aku mendengarkan cerita mereka, beribu pertanyaan terbesit di benakku, kenapa setiap kali ada teman yang dari kampung datang ke Jakarta dan bertemu dengannya, dia tidak pernah menitipkan surat ataupun salam untukku. Saat aku memikirkan itu hatiku sangat hancur dan sedih. Dan aku tahu dia sudah melupakanku, persahabatan kami dulu hanyalah sebuah persahabatan anak kecil dan sekarang dia sudah dewasa mana mungkin dia masih mengingatku seorang gadis kecil yang lemah. Saat itu aku berjanji tidak akan mengingatnya lagi, meskipun hati kecilku berkata tidak dan terus berontak, tapi aku harus melanjutkan kehidupanku dengan lebih baik dan berani mungkin hanya itu yang bisa kau lakukan untuk mengenang Danny “ selalu hidup berani” itulah yang selalu dia katakana padaku. Setelah lulus SMA aku tidak melanjutkan kuliahku karena terbentur biaya, dan aku bekerja di sebuah toko yang  berada tidak jauh dari rumahku. Setahun aku menjalani hidup yang luar biasa membosankan, hingga suatu hari aku mendapatkan panggilan kerja dari perusahaan di Jakarta, ternyata itu perusahaan tempat teman ayahku bekerja dan saat itu ayahku menitipkan CV ku kepada temannya. Dengan nilai – nilai ujian yang aku dapat Perusahaan tersebut tertarik padaku. Dan tanpa pikir panjang aku menerimanya dan untungnya  Ibuku memperbolehkan aku ke Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar